Skip to main content

Bung Karno "Menerjemahkan" Al-Quran



SINOPSIS
Siapa yang tidak gelisah melihat Indonesia saat ini?
Apakah benar keislaman dan kebangsaan itu seperti air dan minyak
yang tidak dapat bersatu?

Berawal dari kegelisahan itu, penulis menyusun buku ini. Dia menggali sejarah Indonesia untuk menemukan jawaban. Lebih khusus lagi, dia menyusuri jejak pergumulan Bung Karno dengan Islam.

Bagaimana Bung Karno menggunakan inspirasi dari Al-Qur’an untuk berpidato di Sidang Umum PBB? Bagaimana ia menjadikan Nabi Muhammad sebagai teladan revolusi? Bagaimana ia membangkitkan semangat ijtihad kebangsaan pada anak muda? Mengapa ia melepas seluruh atribut kenegaraan yang melekat di dirinya saat bersimpuh di makam Baginda Nabi?  

Dalam sosok Bung Karno, kita akan melihat keislaman dan kebangsaan dapat berbaur selaras. Temukan juga kisah-kisah religius Bung Karno yang amat personal. Buku ini akan mengobati dahaga kita yang merindukan teladan dari tokoh pemersatu bangsa ini.

Comments

Popular posts from this blog

Koran Kompas Salah Cetak

Apakah Kalian Termasuk yang Menengok Koran Kompas Hari Ini? oleh: Deza Zakiyah Seperti biasa, pagi ini selembaran Koran sudah ada di meja kantor saya Seperti biasa juga saya hanya mengacuhkan dan memindahkan Koran tersebut ke meja manager saya untuk dibaca oleh orang lain Saya lebih senang membaca berita dalam bentuk digital, mungkin kalian sudah tahu alasan saya lebih memilih berita genggam. Namun, hari ini ada yang berbeda dengan Koran kelas premium ini Di sosial media berbondong-bondong mengomentari Koran Kompas karena lorem ipsum. Lorem ipsum sendiri disebut dummy text adalah teks standar yang ditempatkan untuk mendemontrasikan prestasi visual seperti font, tipografi, dan tata letak. Bisa disebut juga tulisan sementara dalam isi layout desain, ya kesimpulannya saya saja baru tau kesalahan cetak itu istilah redaksinya adalah   lorem ipsum. Meskipun berita dalam bentuk cetak seperti ini omsetnya turun hingga 50%, Koran Kompas tetap memiliki pembac...

Puisi "Tergugah"

oleh Deza Zakiyah Tergugah Bibirmu yang sex-si pernah mendarat di bibirku Selasa pagi Sayu matamu Membelai-belai pipiku  Menggesekkan bulunya dengan manja nan syahdu Tiba-tiba satu jam berlalu Kertas ini kosong melulu Namun otakku Sudah terlalu penuh dengan rindu Akarnya menjalar ke seluruh sel dalam tubuhku Terkujur kaku Membuatku seperempat gila akan hal itu Malam masihlah sama; sunyi Tepat pukul lonceng berbunyi Hansip memukuli tiang-tiang tinggi Dentumnya menggetarkan nurani Sekarang ini Tubuh penuh luka sebab rindu terus menggerogoti~ Z|Menes|17

"Salah Persepsi"

oleh Deza Zakiyah     Salah Persepsi     Kalau aku pilih   Aku tidak memilih untuk bersama ko Kalau Tuhan pilihkan ko   Aku tidak bisa untuk tidak memilih ko