Skip to main content

Puisi "PANIKTITANIK"

untukku Deza Zakiyah



Paniktitanik

Mataku hampa kaku
Laut pelan menelan tubuhku
Tulang dan darah beku
Di dingin kutub terpaku.

Gunung es itu  pun rusak
Kapalku keras menabrak
Dan pesta hancur tak terelak
Tawa kini puing berserak.

Kupandang wajahmu pasi
Menjauh dari mata mimpi
Seperti sisa anggur di palka
Sirna di misteri samudera

Ingatan padamu kini maut
Hidup tinggal sakit kupagut
Di tubuh yg terkubur laut
Menyisa waktu melulu tunggu
Jiwa kosong bilakah bertaut.

Gelap...hitam semua pandang
Kelam...sunyi di semua kenang
Jiwa mati tahu, kamu seorang
Bagi hidup kini mayat tergenang
Selamat tinggal...selamat datang
Diri yang segala hilang.



Datangnya radar kebisuan malaikha
19-03-16

Comments

Popular posts from this blog

Koran Kompas Salah Cetak

Apakah Kalian Termasuk yang Menengok Koran Kompas Hari Ini? oleh: Deza Zakiyah Seperti biasa, pagi ini selembaran Koran sudah ada di meja kantor saya Seperti biasa juga saya hanya mengacuhkan dan memindahkan Koran tersebut ke meja manager saya untuk dibaca oleh orang lain Saya lebih senang membaca berita dalam bentuk digital, mungkin kalian sudah tahu alasan saya lebih memilih berita genggam. Namun, hari ini ada yang berbeda dengan Koran kelas premium ini Di sosial media berbondong-bondong mengomentari Koran Kompas karena lorem ipsum. Lorem ipsum sendiri disebut dummy text adalah teks standar yang ditempatkan untuk mendemontrasikan prestasi visual seperti font, tipografi, dan tata letak. Bisa disebut juga tulisan sementara dalam isi layout desain, ya kesimpulannya saya saja baru tau kesalahan cetak itu istilah redaksinya adalah   lorem ipsum. Meskipun berita dalam bentuk cetak seperti ini omsetnya turun hingga 50%, Koran Kompas tetap memiliki pembac...

Puisi "Tergugah"

oleh Deza Zakiyah Tergugah Bibirmu yang sex-si pernah mendarat di bibirku Selasa pagi Sayu matamu Membelai-belai pipiku  Menggesekkan bulunya dengan manja nan syahdu Tiba-tiba satu jam berlalu Kertas ini kosong melulu Namun otakku Sudah terlalu penuh dengan rindu Akarnya menjalar ke seluruh sel dalam tubuhku Terkujur kaku Membuatku seperempat gila akan hal itu Malam masihlah sama; sunyi Tepat pukul lonceng berbunyi Hansip memukuli tiang-tiang tinggi Dentumnya menggetarkan nurani Sekarang ini Tubuh penuh luka sebab rindu terus menggerogoti~ Z|Menes|17